Menuju Jakarta yang Layak Huni: Menyeimbangkan Kebutuhan Perumahan dan Target Iklim.
Bayangkan kalau masyarakat yang menentukan sendiri kebijakan yang memengaruhi kehidupan kita, dengan peran pemerintah sebagai fasilitator untuk penentuan kebijakan tersebut. Citizens' Assembly, atau yang kami adaptasi menjadi "Mending Runding", adalah kesempatan itu. Kali ini, saatnya warga Jakarta yang menentukan dan menyampaikan kepada Badan Perencanaan Pembangunan DKI Jakarta.
“Siapa yang perlu diprioritaskan untuk tinggal di hunian publik Jakarta?”
Peserta Mending Runding wajib memiliki tiket INZS 2026 — gratis di fpciclimate.org/inzs2026.
Jakarta menghadapi masalah iklim dan hunian. Di tengah kota yang memanas dan terancam tenggelam, masyarakat miskin terpaksa tinggal di hunian tidak layak, sementara kelas pekerja harus tinggal jauh dari pusat perekonomian.
Kelas pekerja tidak dapat membeli rumah di tengah kota, memaksa mereka untuk berkendara dari pinggiran setiap hari. Pergerakan warga menggunakan kendaraan bermotor pribadi pun ikut menyumbang emisi di kota, memperparah kerentanan iklim Jakarta.
Menyediakan hunian bagi semua lapisan masyarakat adalah solusi ideal namun kemampuan pemerintah daerah terbatas. Saat ini, 32.728 unit rusun Pemda hanya mampu menutupi 9% dari total kebutuhan 402 ribu unit.
Mending Runding bukanlah pengganti musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan), forum konsultasi publik, ataupun reses. Mending Runding mengutamakan deliberasi warga menuju sebuah titik mufakat.
Peserta Mending Runding adalah perwakilan warga Jakarta yang dipilih secara acak, namun representatif. Siapa pun bisa ikut berunding, karena setiap peserta akan mendapatkan kesempatan untuk:
Calon peserta dapat mendaftarkan diri (self-nominate) sebelum akhirnya dipilih secara acak, sesuai dengan keragaman warga Jakarta — berdasarkan domisili kota administratif, umur (tahun lahir), jenis kelamin, dan pekerjaan. Kali ini, tersedia slot berdasarkan kriteria umur, gender, dan domisili:
| Kota Administratif | 18–23 th | 24–29 th | 30–35 th | 35–40 th | Total |
|---|---|---|---|---|---|
| Jakarta Pusat | 1L1P | 1L1P | 0L1P | 1L0P | 6 |
| Jakarta Utara | 1L1P | 1L1P | 1L1P | 2L2P | 10 |
| Jakarta Barat | 2L1P | 1L2P | 2L2P | 2L2P | 14 |
| Jakarta Selatan | 2L1P | 2L2P | 1L2P | 1L1P | 12 |
| Jakarta Timur | 3L2P | 2L2P | 2L3P | 2L2P | 18 |
| Total | 15 | 15 | 15 | 15 | 60 |
Untuk memperlancar proses berunding, peserta yang telah terpilih dan menerima undangan mengikuti sesi daring untuk saling mengenal dan memperdalam metode Mending Runding.
Sebelum memasuki sesi deliberasi, peserta mengikuti sesi pembelajaran yang memberikan pemahaman mengenai:
Sesi ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang yang membantu peserta memahami isu secara lebih komprehensif melalui metode TED Talk atau presentasi publik.
Peserta berdiskusi dalam kelompok kecil, ditemani oleh seorang fasilitator. Proses ini memungkinkan peserta untuk:
Rekomendasi hasil diskusi peserta diserahkan kepada Bappeda DKI Jakarta untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam perencanaan kebijakan kota.
Pendaftaran ini khusus untuk menjadi bagian dari 60 warga Mending Runding — terpisah dari tiket Indonesia Net-Zero Summit 2026.
Gratis. Peserta yang membutuhkan dukungan transportasi maupun komunikasi dapat memperoleh bantuan tersebut.
Khusus warga berdomisili di Jakarta — bagian dari proses seleksi acak.